| 200 Pekerja Magang Indonesia di Jepang Minati Waralaba |
|
|
|
| Written by Kapanlagi.com | |
| Monday, 23 June 2008 | |
|
Kapanlagi.com - Sekitar 200 pekerja magang Indonesia atau kensusei yang berada di wilayah Kansai (Osaka, Kobe dan Kyoto), terlihat antusias mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh para pembicara, terutama saat mengupas topik mengenai peluang usaha di tanah air sekembalinya mereka dari Jepang nanti. Para pekerja magang atau akrab disebut kensusei, Minggu siang itu, memadati ruangan Sanbo Hall, di kota Kobe, untuk mendengarkan paparan mengenai pelatihan wirausaha yang digagas bersama Konsulat Jenderal RI di Osaka, perusahaan pengerah tenaga kerja Jepang IMM, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang dan Bank Indonesia (BI) Tokyo. Ratusan pekerja yang berusia rata-rata 22 tahun itu menyimak dengan tertib berbagai peluang usaha yang ditawarkan para pembicara, baik mengenai jenis kegiatan usahanya, peluang memperoleh kredit, akses pasar, hingga memperoleh pendampingan selama berusaha. Begitu moderator membuka ruang tanya jawab, dengan segera acungan tangan pun bermunculan ke udara. Setelah dicatat, para pekerja umumnya mengajukan pertanyaan mengenai prospek bisnis usaha waralaba (franchise), baik itu dibidang makanan, bengkel, pendidikan ataupun sekolah musik dan salon. Ada juga yang berminat untuk membuka usaha sendiri ataupun mencari mitra bisnis yang sejalan. Namun umum mereka buta atau awam sama sekali dengan kegiatan bisnis dan bagaimana memanfaatkan modal yang diperolehnya setelah bekerja keras selama tiga tahun di Jepang. Bayu, Aan, dan Purwanto, sepertinya mewakili kebanyakan rekan-rekannya yang ingin mengetahui masa depan bisnis waralaba di Indonesia. Purwanto, kensusei dari kota Nara, bahkan ingin sekali membuka bengkel motor, namun tidak tahu harus bagaimana. Pembicara pun menjelaskan bahwa peluang bisnis waralaba tetap baik, namun yang penting adalah niat untuk menjalankan bisnis secara serius, mengingat persaingan yang ketat dalam bisnis itu sendiri. "Prospeknya tetap bagus apalagi selama tahun 2007 terjadi terus penambahan outlet di bisnis waralaba ini. Dalam bisnis ini yang penting adalah inovasi, dan tidak selalu bermodal besar," ujar Wimpi Saputra dari Working group for technology transfer (WGTT), mitra kerja KJRI Osaka. "Saya berminat banget mas untuk membuka bengkel kalau pulang nanti. Jadi forum seperti ini sangat berguna untuk membuka wawasan kami untuk memulai bisnis," kata lajang asal Lampung itu kepada Antara. Rekan-rekannya pun menganggukan kepala mereka, tanda setuju degan kegiatan yang dinilainya memberikan pengetahuan baru. Sementara itu, Kozo Komatsu, Managing Director IMM, mengatakan, para kensusei Indonesia umumnya merupakan pekerja yang baik. Mereka juga rajin mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia. Para pekerja itu mendapatkan modal yang cukup besar setelah bekerja keras selama tiga tahun. Rata-rata membawa pulang uang sekitar Rp100 juta - Rp350 juta per orang. "Kegiatan seperti ini baik untuk dilakukan, maka kami ikut mendukung. Kegiatan ini juga menjadi semacam forum komunikasi dari IMM dengan pihak pemerintah Indonesia serta dengan para pekerja itu sendiri," ujar Komatsu, yang kemudian diterjemahkan rekannya ke dalam bahasa Indonesia. Uang itu diperoleh para pekerja, dari upah yang disisihkan, kemudian tambahan tunjangan hari tua dan tambahan dari IMM yang totalnya bisa mencapai 3 juta yen. Bawa Modal Sementara itu, Kepala Fungsi Ekonomi KJRI Osaka, Ibnu Wahyu Utomo, mengatakan, kegiatan pelatihan ini diberikan mengingat potensi para kensusei yang besar untuk menjadi pengusaha yang sukses. "Mereka ini memiliki potensi yang luar biasa untuk digarap sebagai calon pengusaha di kampung halamannya. Mereka juga sudah memiliki etos kerja keras ala Jepang, sehingga modal untuk sukses cukup besar dibanding TKI lainnya," ujar Ibnu lagi. Dari kegiatan tersebut terlihat sebagian besar para pekerja magang Indonesia (kensusei) banyak yang tidak memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan modal yang telah diperolehnya. Padahal mereka merupakan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan memiliki modal yang cukup besar. Pihak Bank Indonesia sendiri menyampaikan bahwa pelatihan wirausaha itu mendapat dukungan penuh dari BI. Termasuk juga mempersiapkan kegiatan pendampingan setibanya di Indonesia nanti. Program pendampingan diberikan untuk mengarahkan calon pengusaha tersebut memiliki arah yang jelas dalam menjalankan bisnisnya. "Intinya, mereka diberikan pendamping yang membuat mereka layak tituk memperoleh bantuan kredit dari bank, memperoleh akses pasar, dan membuka lapangan kerja bagi warga lainnya," ujar Arif Hartawan peneliti BI Tokyo. (*/bun) |
|
| Last Updated ( Saturday, 28 June 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|






